Rasa penasaran karena belum tuntasnya menaklukan menikmati jalur Rindu ALam (RA) – Gadog akhirnya terjawab sudah. Sabtu tanggal 23 Oktober 3 orang kurang kerjaan dengan inisial 3A, Adi “Deejan” – Abee Agung – Andi “Ochep” sepakat untuk menikmati segarnya hawa di daerah Puncak. Lumayan lah sebagai pengganti acara tanggal 30 oktober besok yang “terpaksa” ga bisa ikut karena SIM alias Surat Ijin Menggowes tidak lolos ujian. (Setelah mencari tahu trek nandjak buat tanggal 30 didapatkan semakin bersyukur kalau tidak bisa ikut…
)
Tikum pertama di pintu Tol Kalimalang. Dari jam 6 yang disepakati, akhirnya berangkatlah jam 6.30 dengan menggunakan kendaraan om Adi Deejan. Perjalanan cukup lancar walau sudah banyak kendaraan pribadi dengan plat B yang akan berekreasi ke daerah Puncak. Jam 7.30 kita memasuki parkiran Masjid di pertigaan Gadog. Situasi parkiran sudah penuh, namun dengan sedikit kesabaran akhirnya didapatkan parkiran yang agak nyempil di area belakang. Setelah persiapan ok, satu angkot berwarna biru akhirnya neggotong kita dari Gadog menuju posko Mang Ade sebagai tempat awal menggowes. Di angkot kita terlibat diskusi mau mengambil jalur TW atau RA. Setelah sedikit gontok-gontokan dengan mengeluarkan alibi yang masuk akal, akhirnya om Adi Deejan memenangi pengambilan keputusan bahwasanya kita akan mencoba trek TW dan dilanjutkan Gunung Mas – Gadog.
Sampai Mang Ade kita pun langsung merakit frame dan wheelset. Paty ga ada masalah, GT DJ om Abee pun sukses terpasang, dan ada masalah dengan front wheelset yang tidak bisa terpasang di RockShox. ternyata adaptor yang terpasang di kaliper fork terpasang untuk rotor berukuran 6″, sedangkan saat itu wheelset terpasang rotor berukuran 8″, alhasil wheelset tidak bisa terpasang karena rotor pasti mentok ke kaliper. Ada ide unutk menambah ring di adaptor tapi tidak bisa menemukan baut dan ring untuk mengganjal. lalu mencoba untuk melepas rotor dengan sistem central lock, cari-cari siapa yang membawa kunci, ternyata ga ada. Pikir-pikir akhirnya diputuskan untuk melepas brakeset dari kaliper sampai leveler. Dan… rencana TW pun batal, karena hanya bermodalkan rem belakang saja, om Adi Deejan hanya sanggup melintasi trek RA – Gadog. Setelah keputusan diambil, sepiring nasi goreng dan segelas teteh manis teh manis anget menjadi bekaltenaga untuk perjalanan. Tapi… ups.. om Abee blum cukup, masih harus ditambah semangkok mie rebus.. ckckckck…
Setelah ok, star awal dimulai jam 9-an. Saat masuk trek seperti biasa ada restribusi sebagai jasa untuk menggunakan lintasan trek. Posisi rombongan ( halaaahh.. cuma 3 orang aja kok ya rombongan… ) om Adi Deejan di depan, saya di tengah dan terakhir om Abee. Jalur awal disuguhi tanah becek yang agak gembur dan rerumputan basah. Dari belakang terlihat om Adi cukup cekatan maen perosotan hanya mengandalkan rem belakang saja. Samapi pada satu area terbuka, naluri narsis kita muncul. It’s narsis time. jeprat jepret sedikit, lalu lanjut perjalanan. KHS 505, United Patrol FXP dan GT Dirt Jump tanpa kendala berarti melewti trek awal hingga titik paralayang.
Lanjuuuttt… terk mulai bervariasi, tanah padat, tanah gembur, kubangan air dan bebatuan manjadi santapan yang nikmeh. Sampai dipertigaan jalur selokan dan jalur jalan raya, kita menuju selokan. Di sini variasi trek pun lebih beragam. Nyebrang kali kecil, dengan sebelumnya bernarsis ria dulu, masuk terowongan pepohonan, kubangan lumpur, batu kali, sampai trek tanah dengan lebar hanya selebaran crank pedal menjadi hidangan utama. Dan selepas itu kita melewati jalan perkebunan teh Gunung Mas. Kecepatan di jalur ini bisa maksimal karena murni turunannya puanjang dan puanjang dan puanjang. Selepas trek kebun teh, akhirnya sampai di trek aspal area wisata Perkebunan Teh Gunung Mas. Segelas teh manis hangat menemani istirahat sejenak kita sambil melihat si Ibis Mojo, Titus, Stump Jumper dan kawanannya yang juga lagi berleha-leha.
Setelah dirasakan cukup, perjalanan lanjut melintasi area kebun teh. Tanjakan pun menjadi santapan berikutnya. Tanpa kesulitan berarti bisa kita libas dengan menyusul beberapa rombongan di depan. Sedikit insiden terjadi saat menuju jalan aspal. Pas tanjakan ban belakang selip dan saya pun sukses terjatuh. ” Mantap om, kereeenn ” sedikit pujian dari rombongan lain yang melihat jatuhnya saya. Senyum kecut pun mengembang munutupi rasa malu. Masalah awal terjadi di GT DJ om Abee karena rd-nya sedikit bermasalah. Diutak atik sedikit sembuh deh. Lanjooeett, trek aspal kasar enak buat di libas, apa;agi banyak tanjakan yang arah ke bawah alias turunan. Dan masalah kedua pun muncul kembali di GT DJ om Abee. Sekarang ban belakangnya robek. Ah, mentang-mentang member Robek bannya pun ikutan jadi robek. menurut pengakuannya itu memang akibat si om pecicilan. Ritual ganti ban dalem pun dilakukan. untung saja ban cadangan menjadi sangu utama kalau maen sepedaan. Ga lama om Adi yang sudah di depan balik menjemput kita dan setelah selesai lanjut lagi.
Point selanjutnya adalah warung Taman Safari. sebelumnya kita sudah diikuti beberapa anak kecil yang menyediakan jasa ojek sepeda apabila kita ga mau meewati trek selanjutnya yang terkenal itu. NGEHE, yup.. tanjakan Ngehe 1 menjadi santapan berikutnya. Dari warung langsung disuguhi tanjakan yang lumayan. saya pikir ini adalah tanjakan ngehe itu. Ah, masa sih segampang ini ditaklukkan. Akhirnya sampai di suatu pertigaan. Di sini ritual setel suspensi pun dilakukan. Kata om Adi Ngehe sudah menanti di depan mata. dan saya pun melihat jalur yang belok kiri.
Glek.. sambil nelen ludah.. itu toh tanjakannya. Glek… Disini baru ketauan, fork om Abee yang seharusnya diisi angin belum pernah diisi dari saat beli.. hihihi.. Dan, gentleman, start your knee.
Wuss.. om Adi enteng banged ngegowesnya. tarikan nafasmulai terdengar dengan intensitas yang pendek-pendek. sampai pada titik datar pertama saya berhenti. om Adi dah jauh di depan, om Abee yang dibelakang saya pun tetap terus melaju. Saya pun memandangi trek di depan bersama 2 pesepeda yang saya tidak kenal. Senyum kecut menghiasi wajah kita semua. hihihi.. mau ga mau dilanjutkan perjalanan. Gowes.. gowes..gowes..berhenti. Napas ngos-ngosan dan jantung berdetak lebih cepat. Istirahat dulu, padahal baru seperempat tanjakan. Beberapa rombongan belok kanan menuju arah perosotan yang dinamai Jalur Kondangan, tapi kita terus ke atas. Dan tanpa malu-malu ttb-pun dilakukan, dari pada diem ga naek-naek, bener khan ?
Habis tanjakan beton, langsung disugui makdam. Alamak… mau ga mau ttb pun dilanjutkan hingga kira-kira 150 meter. Setelah itu trek naha keras, dan saya pun mencoba untuk ngegowes. Yup, bisa… terus… goses terus… dan akhirnya sampai saung.
Akhirnya bisa full istirahat. Cemilan pun menemani cacing-cacing di perut yang sudah teriak-teriak minta disuapin. Saat itu jam menunjukan pukul 11an. Di saung pun akhirnya terkumpul 3 rombongan yang sedang istirahat. Setelah dirasa cukup, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan rombongan besar. Jalur berikutnya full turunan makadam. Di jalur ini kaki dan tangan bekerja extra keras, walaupun ini turunan.
Hamparan batu kali yang menjadi media jalan membuat kita ajrut-ajrutan diatas sepeda. Yang sepedanya sudah full suspension sangat terbantu menambah kenyaman, yang masih hard tail ya silahkan menikmati saja hidangan yang tersedia
. Cukup panjang jalur turunan makadam ini. Kita benar-benar jalan di tengah-tengah hamparan perkebunan teh.
Setelah trek makadam yang melewati perkebunan teh, selanjutnya kita melewati trek tanah buecek dengan banyak genangan memasuki areal hutan. sangat rindang cenderung lebat. Jalur tanah lembek dengan beberapa kubangan membuat sepeda bermandikan lumpur. Sampai di salah satu spot kita berhenti untuk narsis time dan menunggu rombongan belakang. Lumayan lah buat rombongan depan, dapet istirahat yang cukup banyak. Menurut inpoh, jalur aspal sudah menanti beberapa ratus meter di depan.
Setelah rombongan terkumpul, perjalanan dilanjutkan. Dan benar saja, ga lama kemudian dari jalur tanah kita langsung disuguhi trek aspal, yang artinya menjadi santapan yang sangat nikmat buat speed lover. Jalur benar-benar full turunan, speed saya prediksi bisa menyentuh 60 kpj. Serem ah, jari pun selalu siap sedia di tuas rem kiri dan kanan. Sampai akhirnya ada sedikit bonus buat yang sudah terlena dengan turunan, tanjakan yang ga terlalu panjang tapi cukup membuat yang tidak siap bisa salah strategi.
Setelah tanjakan kecil itu, rumah makan padang Perapatan menjadi tempat singgah buat ngeganjel perut yang sudah keroncongan. Setelah kenyang, lanjut kang… Tetap trek aspal dan mayoritas 95 persen adalah turunan. Hingga akhirnya sampai di Masjig Gadog sekitar pukul 2an.
Sepeda terlihat dekil sekali, ternyata banyak tukang cuci dadakan yang sudah siap sedia membersihkan sepeda kita. Bersih-bersih badan jadi ritual selanjutnya.
Sate kambing menemani om Abee yang masih belum puas dengan gulai cumi pas makan siang sebelumnya. Dan setelah sepeda dicuci, sekitar jam setengah 4 perjalanan pulang pun dilakukan. Sempat berhenti sebentar di tol untuk membetulkan posisi bike rack yang ternyata kurang kencang saat terpasang. Dan akhirnya sekirtar jam 5 lewat kita sudah samapi di titik drop off dari mobil om Adi di pintu tol Kalimalang. Saya dan om Abee lanjut gowes sampai ke rumah masing-masing.
Akhr kata, thanks buat om Adi Deejan yang sudah memberikan tebengan buat kegiatan iseng yang ga ada kerjaan ini, on Abee yang sudah rela menjadi tukang poto buat kita saat bernarsis ria. Dan yang pasti ucapan syukur pada Tuhan YME yang sudah mendampingi kita dalam perjalanan rumah – Gadog – RA – Gadog – rumah tanpa ada hambatan yang berarti. Moga-moga om Adi ga kapok buat ngawal nyubi seperti saya maen perosotan lagi.

