Goes to WARBAN

21 07 2010

Jam 4.00 subuh alarm si BB bunyi, artinya ya harus bangun dan siap-siap untuk pergi kuliah. Setelah semua siap, silver bread pun keluar dari garasi dengan si orens DT yang sudah siap dan nginep di dalem mobil sejak 2 hari lalu. Tujuan pertama adalah ke arah perumnas klender jemput Nte Desche. Selanjutnya jemput Om Fajar di kolong flyover Kranji. Dan tujuan akhir adalah Stasiun Bekasi. Lhaaaa.. kok ke stasiun sih ?

Sampe Stasiun Bekasi jam 5.30, sesuai jadwal ketemuan dengan rombongan. Beberapa kawan sudah sampai di sana. Sesaat rombongan menjadi artis dadakan karena tatapan mata yang begitu banyak melihat ke arah kami. Ya, mungkin kalau kami sekedar bawa tas ransel hal itu adalah lumrah, tapi yang kami bawa saat itu adalah DT 9FS, SP8, F-City, P-B2W, Si Burung, DT Nova, D-MU, apa lagi ya.. pokoknya bukan bawa barang biasa saat naik kereta. Jam 6.30 si Argo Parahyangan pun tiba. Dengan gerak cepat karena ga mau ketinggalan loading barang pun dilakukan dengan wus wus wus. Karena keterbatasan tempat, beberapa barang bawaan dengan terpaksa numpang di lorong gerbong. Muun maap buat penumpang yang merasa terganggu ya..

Canda ria menyertai perjalanan ke Bandung. ketawa ngakak cuex bebex mewarnai suasana di dalam gerbong, Saat itu serasa gerbong isinya Robek semua. Hehehehe… Yang ngobrol ya ngobrol, yang baca koran ya baca, yang ngantuk ya bobo, sayang photonya ga bisa dipublish disini atas permintaan korban.. wakakaka.. Perjalanan menempuh kurang lebih 3 jam, dan sekitar jam 9 kita akhirnya sampai di stasiun Bandung. Mang Dewa dan Om Pras ternyata sudah siap menjamu kita dengan snack Kartika Sari. Lumayan lha buat ganjel perut. Ternyata di Luar stasiun kami sudah ditunggu ole Sel-B. Wuih… penghuni sel menjemput kami.. hehehe tenang.. Sel-B itu adalah Sepeda Lipat Bandung. Ooo.. jadi ini acara sepedaan ya…..

Dari Stasiun kami menuju BMC – Bandoengsche Melk Centrale untuk sarapan pagi. Dari menu yang terlihat cukuplah untuk mengisi karbohidrat persiapan buat ikutan kuliah. setelah kurang lebih perut terisi secukupnya, perjalanan mulai dilakukan. Jalur melewati Wastu Kencana – Jalan Purnawarman – Jalan Taman Sari – belok kanan menyusuri bawah jalan layang hingga akhirnya Jalan Dago. Kami menyusuri jalan Dago terus sampai ke arah utara yang artinya nandjak teruussss. Hingga akhirnya sampai di terminal Dago atas rombongan sampai dengan tercerai berai selang beberapa menit. Setelah semua sampai perjalanan dilanjutkan kembali. Lho, tapi kok ada yang tertinggal ? menurut EO nanti nyusul karena ada yang menemani. Okelah kalau begitu.

Sesaat kami disuguhi jalan turunann di Jalan Golf Raya. Ya, hanya sesaat, setelah itu tandjakan siap menyambut kami kembali. Dan ketika ada pertigaan kami belok ke kiri ke arah Taman Hutan Raya Djuanda. di Jalan Dago Pakar Barat ini kami masih saja disuguhi medan-medan badji***n, nandjak teruuuuuusss.. Satu per satu peserta dibelakang melewati peserta yang didepan yang mulai kepayahan. TTB pun akhirnya dilakukan demi menghemat tenaga supaya tidak langsung ludes di jalur ini. Untungnya para peserta TTB saling memaklumi kondisi ini. Setelah beberapa saat istirahat, perjalanan dilanjutkan lagi menuju THR Djuanda. Kondisi jalan masih sama dengan format tandjakan. Sesampai didepan THR Djuanda kami dibelokan ke arah kanan menuju Jalan Dago Pakar Utara yang dilanjutkan ke Jalan Negla. Kondisi jalan menanjak aja sudah susah, eh sekarang disuguhi jalan aspal rusak yang nandjak. Alamak… mau ga mau ya harus dilanjutkan.

Beberapa saat kemudian karena tenaga sudah mulai terkuras beberapa peserta berhenti untuk istirahat. Sempat mampir ke warung untuk beli air mineral dan iseng bertanya. ” Bu, warban masih jauh ?”. dan tanpa berdosa sang ibu menjawab ” Tinggal 3 km lagi mas, tapi tandjakannya ada yang lebih sadis dari ini !”. huaaaaa… bukan menambah semangat malah jadi beban pikiran. Dengan tandjakan seperti in iaja sudah mengap-mengap, gimana kalau ada yang lebih curam. Sedang asik-asiknya istirahat sebuah angkot berwarna biru naik dari bawah ke atas. Kok sepertinya saya kenal dengan penumpangnya. Halaaahhh.. rombongan terbelakang paling belakang ternyata dievakuasi. Ada terbersit keinginan untuk nebeng, tapi apa kata dunia nanti ?

Setelah cukup beristirahat beberapa saat, perjalanan pun dilanjutkan dengan kondisi ga jauh berbeda. Tandjakan, mengap-mengap, TTB, istirahat…. begitu terus… samapi bener-bener ketemu tandjakan yang diberitahu oleh si ibu penjaga warung. Wah, ini mah bener-bener TTB abissssssss… Sekilas salah satu anggota Sel-B dengan entengnya melahap tanjakan tanpa susah payah. wedew.. kapan ya punya dengkul kayak gitu ? Namun setelah diteliti ternyata crank depan punya 3 chainring.. panteeeessss… :D . Akhirnya setelah melewati tandjakan maha berat itu kami disuguhi turunan.. uhuuuyyyy… dan beberapa saat kemudian sampailah di WARBAN alias Waroeng Bandrek yang terkenal itu di dunia sepeda.

Jus Tomat, tahu dan tempe goreng menemani rasa lelah yang terasa. Canda ria pun bergejolak di sana. Bandrek, Jus toma, jus jeruk dan teh manis membasahi tenggorokan para goweser yang sudah sampai. Tidak lupa acara narsis  pun dilakukan sebagai tanda kalau semua yang sudah kami lakukan itu bukan fatamorgana. Rencana awal adalah perjalanan dilanjutkan ke arah Maribaya, namun mengingat waktu yang semakin sempit akhirnya diputuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke sana melainkan balik lagi ke arah bawah. Jam 1 siang kami take off dari warban menuju THR Djuanda. Jalan menuju ke sana adalah full turunan dengan kondisi jalan rusak, yang ada tubuh kami bergetar hebat saat melahap jalur itu. sesampai di THR Djuanda, kami masuk ke area wisata dan mengunjungi Gua Belande. jalan menuju Gua Belande sangatlah bersahabat. Turunan…. tapi kami juga sangat tau kalau ada turunan pasti ada tanjakan. Yang dipikirkan adalah pulangnya pasti nadjak lagi…. huaaaaa..

Setelah berpuas diri menikmati alam THR Djuanda, perjalanan kembali dilanjutkan menuju arah kota Bandung. Sekarang kami pun disuguhi turunan tanpa henti. Sempat mampir ke Masjid Darul Hikam untuk melaksanakan ibadah bagi yang menjalaninya. Setelah itu lanjut untuk makan siang. HAH, jam 3 kok makan siang, makan apa tuh pas nya ? RM Ampera adalah lokasi yang kita tuju. Kami menyusuri Jalan Dago – Jalan Surapati lalu belok ke Jalan Gazzebo. Di depan Gedung Sate tidak lupa kami bernarsis ria supaya ada oleh-oleh penampakan robekers di gedung sate. Setelah itu kami meneruskan perjalanan melalui Jalan Mandiri dan akhirnya sampai di RM Ampera.

Tanpa dikomando masing-masing peserta langsung memesan makanan. Sempat terjadi kericuhan saat pesanan datang karena merasa pesanannya belum diterima, ternyata sudah diembat sama peserta lainnya. hahahahhaa…  setelah kenyang, perjalan pun dilanjutkan dalam suasana gerimis.Tujuan berikutnya adalah wisata rohani. Apakah ke tempat ibadah ? sebentar… kami menyusuri Jalan Lombk – Jalan Aceh – Jalan Sumatr, tembus di Jalan Veteran. Sempat berhenti di depan Batagor Kingsley yang terkenal itu, namun sepertinya ga ada yang mau beli, jadi perjalanan pun dilanjutkan kembali hingga sampai di pertemuan Jalan Veteran, Jalan Naripan dan Jalan Ahmad Yani. Di sinilah lokasi untuk wisata rohani bagi cyclist. Ya, toko sepeda dan segala yang berhubungan dengannya.

Beberapa peserta pun belanja belinji sesuai dengan keinginan. yang lainnya cuma bisa ileran melihat komponen-komponen yang ditaksir tapi belum sanggup untuk menebusnya. Semoga next trip bisa ditebus ya om dan tante. Setelah puas, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Saatnya perjalanan menuju pemberhentian terakhir yaitu Stasiun. Kami menyusuri Jalan Ahmad Yani – Jalan Asia Afrika – Jalan Braga. Baru kali ini melewati Jalan Braga yang legendaris itu, ternyata memang sangat nyeni area di sana. Sebelum sampai di Stasiun kami mampir dulu ke Masjid Agung Al-Ukhuwah. Beberapa peserta menjalankan ibadah Sholat Magrib dan bagi yang sudah membawa pakaian ganti langsung sekalian mandi bersih-bersih diri. Teng, jam setengah tujuh malam kitalanjut ke arah stasiun.

Sampai di Stasiun jam 7 malam kurang sedikit. tanpa ba bi bu lagi kami menuju peron untuk mempersiapkan diri naek ke kereta. Namun sayang, keretanya belum datang, jadi kami ber haha hihi dulu membahas perjalan sepanjang hari itu. Jam 8 kereta pun tiba, kami semua naik dan membereskan barang bawaan. Untungnya karena start dari stasiun awal, kami bisa meletakan seli-seli di area-area yang dirasa tidak mengganggu kenyamanan para penumpang kereta. Jadwal yang tertera adalah jam 8 untuk keberangkatan, Namun hingga jam 9 kereta belum jalan juga. Ternyata menurut informasi ada longsor di daaerah sekitar Purwakarta. Dan akhirnya sekitar jam setengah sepuluh kereta pun berangkat. Karena rasa lelah yang luar biasa, mayoritas robeker tertidur di bangkunya masing-masing. Melihat hal ini om Agus pun timbul keisengannya untuk mengabadikan gaya-gaya robekers yang tidur dengan berbagai macam variasi. Dan akhirnya jam 12.30an kami sampai juga di Bekasi. Setelah mengantar Om Fajar dan Nte Desche, kasur kamar adalah tujuan akhir dari segala kegiatan di hari itu. What a day, 18 hours with Robek, unforgetable moment. Semoga ini bukan momenat terakhir melainkan awal menuju moment-moment berikutnya.

Peserta : Om Iman, Om Apip, Om Dewa, Om Echa, Om Ochep, Om Fajar, Om Qodrat, Om Lukas, Om Pras, Om Tony, Om Agus, Om Buday, Om Deejan, Om Abee, Om Afri, Om Rizal, Nte Desy, Nte Desche, Nte Nadya, duh.. siapa lagi ya…lupa euy.. Thanks to Sel-B yang sudah menjamu kami, Om Dewa yang sukses jadi EO, Om Pras dan Om Abee sebagai juru photo, Om Iman yang udah ngurusin tiket kereta pulang pergi, Nte Nadya yang udah ngasi sarapan roti di kereta, dan semuanya yang udah nemenin kuliah jauh-jauh ke Bandung. (YAP)

Sumber Photo : Koleksi Om Pras

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.